A. Pendekatan PKn sebagai Pendidikan Nilai dan Moral Pancasila Apakah sesungguhnya pendidikan nilai dan moral itu? Untuk memahami konsep pendidikan nilai secara teoritik, Herman (1972), mengemukakan suatu prinsip yang mendasar, yakni bahwa ” … value is neither thought nor cought, is learned”, yang artinya bahwa sustansi nilai tidaklah semata-mata ditangkap dan diajarkan tetapi lebih jauh, nilai dicerna dalam arti ditangkap, diinternalisasi dan dibakukan sebagai bagian yang melekat dalam kualitas pribadi seseorang melalui belajar. Dan moral, dalam perkembangannya diartikan sebagai kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik. Dalam kehidupan bermasyarakat , pendidikan nilai dan moral sudah berlangsung didalamnya. Sebagai contoh, dalam bentuk tradisi-tradisi atau adat-adat masyarakat, tradisi turun temurun seperti dongeng, nasihat, simbol-simbol, legenda dan kesenian daerah. Misal, legenda di seluruh penjuru tanah air seperti Malin Kundang dari Sumatra Barat dan Sangkuriang dari Jawa Barat digunakan sebagai stimulus dalam pembahasan suatu konsep nilai dan moral bahwa ” surga ada di telapak kaki ibu”. Disini dalam konteks pendidikan nilai dan moral mencakup substansi dan proses pengembangan nilai patriotisme seperti cinta tanah air, hormat pada para pahlawan, yang sengaja dikemas untuk melahirkan individu sebagai warganegara yang cerdas dan baik serta rela berkorban untuk bangsa dan negara. 1. Bagaimana PKn sebagai Mata Pelajaran yang Memiliki Misi adalah Pendidikan Nilai dan Moral? Khusus mengenai pendidikan nilai dalam Penjelasan Pasal 37 Undang-undang Rebublik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional secara Khusus tidak menyebutkan, namun secara implisit, antara lain tercakup dalam muatan pendidikan kewarganegaraan, yang secara substansif dan pedagogis mempunyai misi mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air. Hal itu juga ditopang oleh rumusan landasan kurikulum, yang dalam pasal 36 ayat (3) secara eksplisit perlu memperhatikan persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan, perekembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni, keragaman potensi daerah dan lingkungan dan peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik. Dalam Pembukaan UUD 1945 alenia ke empat, dinyatakan dengan tegas bahwa Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain untuk ”mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk mendapatkan kehidupan bangsa yang cerdas dalam arti yang luas tentu diperlukan warganegara yang cerdas juga dalam arti yamg luas. Upaya untuk mencerdaskan warganegara dapat ditempuh melalui program pendidikan nasional, sebagaimana hal tersebut tersurat dalam Pasal 31 UUD 45 ayat (3) (Amandemen keempat 10 Agustus 2002), ” Pemerintahmengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”. Mengapa PKN diberikan sebagai pendidikan nilai dan moral di sekolah? Karena pendidikan nilai memiliki dimensi pedagogis praktis yang jauh lebih kompleks dari pada dimensi teoritisnya karena terkait dengan konteks sosio-kultur dimana pendidikan nilai itu dilaksanakan. Karakter yang baik (good character) mengandung tiga dimensi nilai moral: 1. Dimensi wawasan moral (knowing moral values) a. Kemampuan mengambil pandangan orang lain (perspective taking) b. Penalaran moral (moral reasoning) c. Mengambil keputusan(decision-making) d. Pemahaman diri sendiri (self-knowledge) 2. Dimensi perasaan moral (moral feeling) a. Kata hati/ nurani (conscience) b. Harapan diri sendiri (self-esteem) c. Merasakan diri orang lain (empathy) d. Cinta kebaikan (loving the good) e. Kontrol diri (self-control) f. Merasakan diri sendiri (humility) 3. Demensi perilaku moral a. Kompetensi (competence) b. Kemauan (will) c. Kebiasaan (habit) Pendidikan moral secara formal-kurikuler terdapat dalam mapel: 1. Pendidikan pancasila dan PKN, mencakup pendidikan sikap, keyakinan, perilaku dalam hubungan manusia dengan negaranya, masyarakatnya dan bangsanya. 2. Pendidikan Agama, mencakup sikap, keyakinan dan perilaku dalam hubungan manusia dengan khaliq Tuhan YME, hubungan manusia dengan manusia lain dan alam. 3. Pendididkan Bahasa dan Seni, mencakup pendidikan nilai yang menyangkut pemaknaan dan penghargaan terhadap harmoni(keindahan, keserasian). 4. Dalam hubungan antara manusia dan alam semesta. Dengan berlakunya UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi secara imperative wajib memuat pendidikan agama, pendidiakan kewarganegaraan dan bahasa. (Ps. 37 ayat (2)). UU RI tentang Sisdiknas tersebut, tidak lagi mengenal adanya Pancasila secara tersendiri yang ada hanyalah pendidikan kewarganegaraan yang harus diartikan pendidikan kewarganegaraan yang berintikan nilai dan moral yang secara substansif terkandung dalam pancasila. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa secara substansif menurut UU Sisdiknas tersebut pendidikan kewarganegaraan merupakan wahana pedagogis untuk mengembangkan rasa dan intuisi kebangsaan dan cinta tanah air atau patriotism serta nilai dan kebajikan demokratis (democratic virtues and culture). Pendidikan dan pengajaran PKn harus membimbing murid-murid menjadi warganegara yang mempunyai rasa tanggung jawab. Kemudian oleh Kementrian PKK dirumuskan tujuan pendidiakan “… untuk mendidik warganegara yang sejati yang bersedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk Negara dan masyarakat”, dengan sifat-sifat sebagai berikut. “Perasaan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa; perasaan cinta kepada alam; perasaan cinta kepada Negara; perasaan cintadan hormat kepoada ibu dan bapak; perasaan cinta kepada bangsa dan kebudayaan; perasaan berhak dan wajib ikut memajukan negaranya menurut pembawaan dan kekuatannya; keyakinan bahwa orang menjadi bagian tak terpisah dari keluarga dan masyarakat; keyakinan bahwa orang yang hidup dalam masyarakat harus tunduk pada tata tertib; keyakinan bahwa pada dasarnya manusia itu sama derajatnya sehingga sesame anggota masyarakat harus saling menghormati, berdasarkan rasa keadilan dengan berpegang teguh pada harga diri; dan keyakinan bahwa Negara memerlukan warga Negara yang rajin bekerja, mengetahui kewajiban dan jujur dalam pendidikan dann tindakan.” (Djojonegoro, 1996: 75-76) Hakekat tujuan pendidikan tersebut di dalam Undang-Undang No.40 Tahun 1950, Bab II, pasal 3 (Djojonegoro, 1996:76) dirumuskan menjadi “ membentuk manusia susila yang cakap dan warganegara yang demokratis, serta bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”. Di situ pun, hakikat pengembangan warga Negara yang cerdas, demokratis dan religius secara konsisten dipertahankan. Proses pendidikan yang memusatkan perhatian pada pengembangan nilai dan sikap ini di dunia barat di kenal dengan “value education, affective education, moral education, character education”. Di Indonesia, wacana pendidikan nilai tersebut secara kurikuler terintegrasi antara lain dalam pendidikan bahasa dan seni. Muatan pendidikan kewarganegaraan, secara substansi dan pedagogis mempunyai misi mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air. Di SD PPKn bertujuan untuk menanamkan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari – hari yang di dasarkan kepada nilai – nilai pancasila baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa PPKn 1994, secara peradigmatik sesungguhnya masih sama dengan PMP sebelumnya. B. Pendidikan Nilai dan Moral dalam Standar Isi Kurikulum PKn SD Dalam ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk pendidikan dasar dan menengah, menurut Permendiknas NO.22 Tahun 2006 secara umum meliputi substansi kurikuler yang didalamnya menandung nilaidan moral sebagai berikut: 1. Persatuan dan kesatuan bangsa 2. Norma, hukum dan peraturan 3. Hak asasi manusia 4. Kebutuhan warga negara 5. Konstitusi negara 6. Kekuasaan dan politik 7. Pancasila, dan 8. Globalisasi. Hubungan interaktif proses pengembangan nilai dan moral dengan proses pendidikan di sekolah harus dilihat dalam paradigma pendidikan nilai secara konseptual dan operasional. Konsep-konsep “values education, moral education, education for virtues” yang secara teoritik, oleh linckona (1992) diperkenalkan sebagai program dan proses pendidikan yang tujuannyaselain mengembangkan pikiran, atau menurut bloom untuk mengembangkan ilai dan sikap. Seperti dikutip lickona (1992) Theodora rosevelt (mantan presiden USA) mengatakn bahwa “mendidik orang, hanya tertuju pada pikirannya bukan moralnya, sama dengan mendididikan keburukan kepada masyarakat. Lebih jauh juga Lickona (1992:6-7) melihat bahwa para pemikir dan pembangun demokrasi, sebagai paradigma kehidupan di dunia barat, berpandangan bahwa pendidikan moral merupakan aspek yang esensial bagi perkembangan dan berhasilnya kehidupan demokrasi. Setiap individu warganegara seyogyanya mengerti dan memiliki komitmen terhadap fondasi moral demokrasi yakni menghormati hak orang lain, mematuhi hukum yang berlaku, berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat, dan peduli terhadap perlunya kebaikan umum. Dalam kaitannya dengna usia, piaget merumuskan perkembangan kesadaran dan pelaksanan aturan sebagai berikut. Piaget membagi beberapa tahapan dalam dua domain yakni kesadaran mengenai aturasn dan pelaksanaan aturan. Tahapan domain kesadaran mengenai aturan: 1. usia 0-2 tahun: pada usia ini aturan dirasakn sebagai hal yang tidak bersifat memaksa. 2. Usia 2-8 tahun: pada usia ini aturan disikapi sebagai hal yang bersifatr sacral dan diterima tanpa pemikiran. 3. usia 8-12 tahun: pada usia ini aturan diterima sebagai hasil kesepakatan Tahapan pada domain pelaksanan aturan: 1. usia 0-2 tahun: pada usia ini aturan dilakukan sebagai hal yang hanya bersifat motorik saja. 2. usia 2-6 tahun: pada usia ini aturan dilakukan sebagai perilaku yang lebih berorientasi diri sendiri. 3. usia 6-10 tahun: pada usia ini aturan diterima sebagi perwujudan dari kesepakatan. 4. usia 10-12 tahun: pada usia ini aturan diterima sebagi ketentuan yan gsudah dihimpun. Dari penelitian kohlberg merumuskan adanya tiga tingkat yang didasari atas enam tahap perkemabngan moral sebagai berikut: 1. Tingkat I: Prakonvensional (Preconventional) a. Tahap I: Orientasi hukumman dan kepatuhan. Ciri moralita pada tahap ini adalh apapun yang pada akhirnya mendapat pujian atau dihadiahi adalh baik, dan adapun yang pada akhirnya dikenai hukuman dalh buruk. b. Tahap 2: Orientasi instrumental nisbi. Ciri moralita pada tahap ini adalh seseorang berbuat baik apabila orang lain berbuat baik padanya, dan baik itu adalh sesuatu bila satu sama lain berbuat hal yang sama. 2. Tingkat II: Konvensional (Conventional) a. Tahap 3: Orientasi umpan balik. Ciri utama moralita pada tahap ini adalah bahwa sesuatu hal yang dipandang baik dengan pertimbangan untuk memenuhi tanggapan orang lain baik atau baik karena memang disepakati. b. Tahap 4: Orientasi hukum dan ketertiban. Ciri utama moralita pada tahap ini adalah bahwa sesuatu hal yang baik itu adalh yang diatur oleh hukum dalam masyarakat dan dikerjakan sebagi pemenuhan kewajiban sesuai dengna norma hukum tersebut. 3. tingkat III: Poskonvensional (Postconventional) a. tahap 5: Orientasi kontrak sosial legalistik. Ciri utama moralita adalah bahwa sesuatu dinilai baik bila sesuai dengna kesepakatan umum dan diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran konsensual. b. Tahap 6: Orientasi prinsip etika universal. Ciri utama moralita pada tahap ini adalah bahwa sesuatu dianggap baik bila telah menjadi prinsip etika yang bersifat universal dari mana norma dan aturan dijabarkan.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar belakang

Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan.pemilihan salah satu metode mengajar tertentu kan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim , kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan di ciptakan oleh guru.

  1. B. Landasan Teori

Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam prosesbelajar mengajardapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa , media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi.

BAB II

PEMBAHASAN

Levie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya  media visual ,yaitu

  1. Fungsi atensi
  2. Fungsi afektif
  3. Fungsi kognitif
  4. Fungsi kompensatoris

Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar.

Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang menggungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.

Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang membuat konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

Media pembelajaran, menurut Kemp & Dayton(1985:28), dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu :

  1. Memotivasi minat atau tindakan
  2. Menyajikan informasi
  3. Memberi instruksi

Berbagai manfaat media pembelajaran telah dibahas oleh banyak ahli. Menurut Kemp & Dayton (1985;3-4) meskipun telah lama disadari bahwa banyak keuntungan penggunaan media pembelajaran,menerimanya serta pengintegrasiannya ke dalam program – program pengajaran berjalan amat lambat. Mereka mngemukakan beberapa hasil penelitian yang menunjukan dampak positif dari penggunaan media sebagai bagian integral pembelajaran dikelas atau sebagai cara utama pembelajaran langsung sebagai berikut:

  1. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku.
  2. Pembelajaran bisa lebih menarik
  3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan dengan diterapkannya teori belajar dengan prinsip – prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik, dan penguatan
  4. Lama waktu pembelajaran yang diperlukan dapat dipersingkat karena kebanyakan media hanya memerlukan waktu singkat untuk mengantarkan pesan – pesan dan isi pelajaran dalam jumlah dalam jumlah yang cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh siswa.

Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam system pendidikan modern saat ini. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi :

  1. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas
  2. Membuahkan perubahan signifikan tingkah laku siswa
  3. Menunjukan hubungan antara mata pelajaran dan kebutuhan dan minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa
  4. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa
  5. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa
  6. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatkan hasil belajar
  7. Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajari
  8. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang bermakna dapat dikembangkan
  9. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran nonverbalistik dan membuat generalisasi yang tepat

10.  Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan system gagasan yang bermakna.

Sudjana & Rivai (1992:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu :

  1. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
  2. Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran
  4. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru,tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain.

Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (1994:15) merincikan manfaat media pendidikan sebagai berikut:

  1. Meletakan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi verbalisme.
  2. Memperbesar perhatian siswa.
  3. Meletakan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap.
  4. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa.
  5. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu, terutama melalui gambar hidup.
  6. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
  7. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar.

Dari uraian dan pendapat beberapa ahli di atas, dapatlah disimpulkan beberapa manfaat praktis dari penggunaan mdia pembelajaran didalam proses belajar mengajar sebagai berikut:

  1. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan pross dan hasil belajar.
  2. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
  3. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.
  4. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata, kunjungan- kunjungan ke museum atau kebun binatang.

BAB III

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dalam kegiatan belajar mengajar. dan membawa pengaruh – pengaruh psikologis terhadap siswa.

  1. B. Saran

Sebaiknya dalam proses pembelajaran di sekolah kita harus menggunakan media agar siswa dapat lebih mudah memahami pelajaran yang di ajarkan oleh guru. Karena bahwasannya media pembelajaran paling besar pengaruhnya bagi indra dan lebih dapat menjamin pemahaman.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kenerja akademik yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan siswa dengan siswa lainnya.

Melihat kenyataan yang terjasdi pada diri siswa mengenai kesulitan belajar menunjukkan bahwa banyak masalah yang dihadapi para siswa dalam menenpuh pendidikan. Penyelenggara pendidikan di sekolah-sekolah pada umumnya hanya ditujukan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga yang berkmampuan lebih atau yang berkemampuan kurangterabaikan

B. Identifikasi Masalah

  1. Mengetahui penyebab siswa mengalami kesulitan belajar
  2. Perlunya kerjasama antara guru dan orangtua untuk menyelesaikan masalh yang dihadapi siswa

C. Batasan Masalah

Permasahan hanya dibatasi pada kesulitan belajasr siswa dan pemecahnnya serta factor-faktor yang membuat siswa kesulitan belajar. Padahal usia sekolah haruslah belajar secara maksimal sehingga dalam menenpuh pendidikan menjadi berhasil.

D. Rumusan Masalah

  1. Faktor apa saja yang membuat siswa kesulitan belajar
  2. Bagaimana alternative pemecahannya

E. Tujuan

  1. Menentukan metode yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah kesulitan belajar
  2. Mampu mengidentifikasi permasalah yang dialami siswa

BAB II

ISI

  1. 1. FAKTOR-FAKTOR KESULITAN BELAJAR

Kesulitan belajar dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) siswa seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan sering minggat dari sekolah.

Secara garis besar, factor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas 2 macam:

  1. Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan yang muncul dari dalam diri siswa.
  2. Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan yan gdatang dari luar siswa.

A. Faktor Intern Siswa

Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa yakni:

1)   Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa.

2)   Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap

3)   Yang bersifat psikomotor ( ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indra penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga)

B. Faktor Ekstern siswa

Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung, aktivitas belajar siswa. Faktor ini dibagi tiga macam

1)   Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.

2)   Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.

3)   Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alqat-alat belajar yang berkualitas rendah.

Di antara factor-faktor yang dapat dipandang sebagai factor khusus ini ialah syndrome psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indicator adanya keabnormalan psikis (reber, 1998) yang menimbulkan kesulitan belajar.

  1. Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca.
  2. Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis.
  3. Diakalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika.
  4. 2. Diagnosis Kesulitan Belajar

Sebelum menetapkan alternatiF pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sanga dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya ini disebut diagnosis yang bertujuan menetapkan “jenis penyakit” yakni jenis kesulitan belajatr siswa.

Banyak langkah-langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip wardani (1991) sebagai berikut:

  1. Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
  2. Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
  3. Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahi hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
  4. Memberiakn tes diagnostic bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
  5. Memberikan tes kemamp[uan intelegensia (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.

Secara umum, lankah-langkah tersebut diatas dpat dilakukan dengan mudah oleh guru kecuali langkah ke-5 (tes IQ). Untuk keperluan tes IQ, guru dan orang tua siswa dapat berhubungan dengan klinik psikologi. Dalam hal ini, yang sangat perlu dicatat ialah apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar itu ber-IQ jauh dibawah normal (tuna grahita), orangtua hendaknya mengirimkan siswa tersebut ke lembaga pendidikan khusu anak-anak tuna grahita (sekolah luar biasa), karena lembaga/sekolah biasa tidak menyediakan tenaga pendidik dan kemudahan belajar khusus untuk an-anak abnormal. Selanjutnya para siswa yang nyata-nyata menunjukkan misbehavior berat seperti perilaku agresif yang berpotensi antisocial atau kecanduan narkotika, harus diperlakukan secara khusus pula, iumpamanya dimasukksn ke lembaga pemasyarakatan anak-anak atau “pesantren khusus pecandu narkoba.

  1. 3. Alternatif Pemecahan Kesulitan Belajar

Banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut.

  1. Menganalisis hasil; diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antarbagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
  2. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
  3. Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran perbaikan).

A. Analisis Hasil diagnosis

Data dan informasi yang diperoleh guru melalui diagnostik kesulitan belajar tadi perlu dianalisis sedemikian rupa, sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti.

B. Menentukan Kecakapan Bidang Bermassalah

Bidang-bidang kecakapan bermasalah dapat dikategorikan menjadi tiga macam:

  1. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
  2. Bidang kecakapan bermasalh yag tidak dapt ditangani oleh guru dengan bantuan orang tua.
  3. Bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani baik oleh guru maupun orangtua.

Bidang kecakapan yang tidak dapat ditangani atau terlalu sulit untuk ditangani baik oleh orangtua maupun guru dapat bersumber dari kasus-kasusu tunagrahita (lemah mental) dan kecanduan narkotika. Mereka yang termasuk dalam lingkup dua macam kasus yang bermasalah berat ini dipandan gtidak berketrampilan (unskilled people).

C. Menyusun program Perbaikan

Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teching), sebelumya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Tujuan pengajaran remedial
  2. Materi pengajaran remedial
  3. Metode pengajaran remedial
  4. Alokasi waktu pengajaran remedial
  5. Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial.

D. Melaksanakan Program Perbaikan

Kapan dan dimana program pengajaran remedial yang telah dirancang itu dapat anda laksanakan? Pada prinsipnya, program prngajaran remedial itu lebih cepat dilaksanakan lebih baik. Tempat penyelenggaraannya bias dimana saja, asal tempat itu memungkinkan untuk siswa klien (siswa yang memerlukan bantuan) memusatkan perhatiannaya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Masalah yang dihadapi siswa beragam ada yang dari factor intern dan factor ekstern. Kesulitan belajar siswa bisa disebabkan karena siswa tersebut berprestasi rendah ataupun berprestasi tinggi. Siswa yang berprestasi rendah bisa karena siswa tersebut abnormal sehingga harus ada pendidikan khusus yaitu di sekolah luar biasa.banyak alternative pemecahan masalah yang bisa dipilih oleh guru maupun orangtua

B. Saran

1.  Alternatif yang digunakan guru maupun orangtua dapat mengatasi masalah yang dihadapi siswa.

2. adanya kerjasama antara guru dan orangtua untuk menangani masalah siswa

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!